Rabu, 15 Januari 2014

MAKALAH GREBEG BESAR DI DEMAK




BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
            Indonesia adalah Negara kepulauan yang terdiri dari berbagai daerah dan mempunyai banyak sekali suku, adat-istiadat, tradisi, bahasa atau yang disebut kebudayaan. Karena banyaknya kebudayaan inilah yang menyebabkan Indonesia merupakan Negara yang kaya akan budaya. Dari kebudayaan di masing-masing daerah tersebut dan kemudian memunculkan kebudayaan nasional dimana kebudayaan itu akan memberikan identitas, ciri, sikap dan perilaku dari suatu daerah bangsa Indonesia sendiri. Kebudayaan merupakan sesuatu yang sangat bernilai selain menjadikan ciri khas dari suatu daerah juga menjadi lambang dari suatu bangsa. Karena kebudayaan merupakan suatu kekayaan dari bangsa atau pun daerah maka setiap individu diwajibkan untuk menjaga, melestarikan dan memelihara kebudayaan masing-masing. Dengan kata lain kebudayaan adalah aset yang penting untuk kita jaga dan kita lestarikan.
            Tradisi merupakan sesuatu yang telah dilakukan untuk sejak lama dan menjadi bagian dari kehidupan suatu kelompok masyarakat, biasanya dari suatu negara, kebudayaan, waktu, atau agama yang sama. Hal yang paling mendasar dari tradisi adalah adanya informasi yang diteruskan dari generasi ke generasi baik tertulis maupun (sering kali) lisan, karena tanpa adanya ini, suatu tradisi dapat punah. Maka dari itu kita harus senantiasa melestarika tradisi-tradisi daerah daerah kita masing-masing

B. Maksud dan Tujuan
            Karena melestarikan dan menjaga tradisi ataupun kebudayaan merupakan kewajiban setiap individu, maka dalam realisasinya saya mencoba menyusun makalah yang berjudul Tradisi Grebeg Besar di Demak yang didalamnya mengulas tentang berbagai informasi dan runtutan dari tradisi tersebut. Penyusunan makalah yang berjudul Tradisi Grebeg Besar di Demak ini bertujuan agar pembaca mengetahui bahwa Demak merupakan daerah yang juga mempunyai banyak tradisi serta menyadari bahwa menjaga dan melestarikan kebudayaan daerah merupakan kewajiban dari setiap orang.




BAB II
PEMBAHASAN

            Kabupaten Demak, adalah salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Ibu kotanya adalah Demak. Kabupaten ini berbatasan dengan Laut Jawa di barat, Kabupaten Jepara di utara, Kabupaten Kudus di timur, Kabupaten Grobogan di tenggara, serta Kota Semarang dan Kabupaten Semarang di sebelah barat. Kabupaten Demak memiliki luas 897,43 km².
Sejarah Kabupaten Demak yaitu Tanggal 28 Maret 1503 ditetapkan sebagai hari jadi kabupaten Demak. Hal ini merujuk pada peristiwa penobatan Raden Patah menjadi Sultan Bintoro yang jatuh pada tanggal 12 Rabiulawal atau 12 Mulud Tahun 1425 Saka (dikonversikan menjadi 28 Maret 1503).
            Grebeg Besar Demak merupakan sebuah acara budaya tradisional besar yang menjadi salah satu ciri khas Demak. Tradisi Grebeg Besar Demak ini berlangsung setiap tahun pada tanggal 10 Dzulhijah saat Idul Adha. Dimeriahkan dengan karnaval kirap budaya yang dimulai dari Pendopo Kabupaten Demak hingga ke Makam Sunan Kalijaga yang terletak di Desa Kadilangu, jaraknya sekitar 2 kilometer dari tempat mulai acara.
Grebeg Besar merupakan upacara tradisional yang mempunyai nilai ritual keagamaan bagi warga masyarakat Kabupaten Demak untuk menyambut datangnya hari raya Lebaran Haji pada setiap tanggal 10 Zulhijah. Grebeg pertama kali diadakan untuk memperinghati hari jadi Mesjid Demak yang dibangun oleh Sunan Kalijogo bersama Sunan Bonang, Sunan Gunung Jati dan Sunan Ampel dengan potongan-potongan kayu atau tata dalam tempo sehari. Pada waktu itu merupakan satu-satunya mesjid di Jawa. Sebelum peringatan dimulai diupayakankan bagaimana caranya untuk memancing kedatangan masyarakat desa yang masih banyak menganut agama dibawah Islam. Maka diadakan berbagai acara dan atraksi. Kesenian tradisional maupun permainan yang disenangi masyarakat pada waktu itu ditrampilkan sehingga rakyat impulse akan hilang tertarik kepada agama yang ada. Karena seringnya mengdengar dan melihat kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh orang-orang yang telah masuk Islam, masyarakat yang belum tahu akan agama tersebut tertarik perhatiannya dan menimbulkan rasa ingin mengerti.

Asal Mula
            Demak merupakan kerajaan Islam pertama dipulau jawa ,disamping sebagai pusat pemerintahan, Demak sekaligus menjadi pusat penyebaran agama Islam dipulau Jawa. Berbagai upaya dilakukan oleh para Wali dalam menyebarluaskan agama Islam. Berbagai halangan dan rintangan menghadang, salah satu diantaranya adalah masih kuatnya pengaruh Hindu dan Budha pada masyarakat Demak pada waktu itu. Pada akhirnya agama Islam dapat diterima masyarakat melalui pendekatan pendekatan para Wali dengan jalan mengajarkan agama Islam melalui kebudayaan atau adat istiadat yang telah ada. Untuk itu setiap tanggal 10 Dzulhijah umat Islam memperingati Hari Raya Idul Adha dengan melaksanakan Sholat Ied dan dilanjutkan dengan penyembelihan hewan qurban kemudian diadakan Grebeg Besar Demak. Pada waktu itu, dilingkungan Masjid Agung Demak diselenggarakan pula keramaian yang disisipi dengan syiar-syiar keagamaan, sebagai upaya penyebarluasaan agama Islam oleh Wali Sanga. Bentuk keramaian yang dikenal dengan nama GREBEG BESAR adalah murni hasil ciptaan para wali. Pelaksanaannya dimulai setelah walisongo angkatan I mengadakan sidang di serambi Masjid Agung Ampel Dento Surabaya, keputusannya sebagai berikut :
“NGENANI ANANE SOMAWONO KIPRAH MEKARE TSAQOFAH HINDU ING NUSA SALALADANE, JUWAJIBAN PORO WALI AREP ALAKU TUT WURI ANGISENI. DARAPUN SUPOYO SANAK-SANAK HINDU MALAH LEGO-LEGOWO MANJING ISLAM.
Artinya : Dengan adanya perkembangan ajaran Hindu di pulau wilayah ini, tugas para wali dakwah menyesuaikan adat istiadat setempat sambil mengisi nafas Islam, agar supaya masyarakat Hindu hatinya rela dan tulus ikhlas masuk Islam.
            Konon, Grebeg telah ada sejak 1428 tahun saka, atau 1506 Masehi pada zaman Majapahit. Para Raja Jawa secara turun temurun menyelengarakan upacara pengorbanan dengan menyembelih seekor kerbau jantan yang masih liar untuk dipersembahkan sebagai sesajian kepada dewa atau arwah para leluhur. Upacara korban merupakan upacara kenegaraan yang disebut Rajaweda dengan harapan mendapatkan kemakmuran dan dijauhkan dari segala malapetaka. Pada jaman kesultanan Demak Bintoro, yang diperintah Raden Patah, kebiasaan Raja Jawa mengadakan upacara Rajaweda bertentangan dengan ajaran agama Islam. Akhirnya, upacara tersebut ditiadakan. Para wali mengambil kebijaksanaan Grebeg dilestarikan sebagai salah satu jalan pendekatan dengan umat agama sebelumnya dengan mengubah corak dan tata caranya menurut Islam. Dari keseluruhan acara Grebeg Besar yang menarik adalah pada malam 9 Zulhijah yaitu tumpengan di serambi depan mesjid agung Demak. Tumpeng tersebut berjumlah sembilan atau songo, berbentuk gunungan atau kerucut yang masing-masing lengkap dengan lauk pauknya mencerminkan kebesaran dan jumlah wali yang sembilan orang, yaitu Sunan Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Giri, Sunan Dradjat, Sunan Kalijogo, Sunan Muria, Sunan Kudus dan Sunan Gunungjati. Tumpeng itu diarak dari pendopo kebupaten Demak diiring dengan kesultanan Demak Bintoro tempo dulu ke mesjid agung Demak untuk direbutkan oleh pengunjung yang sudah menunggu di mesjid. Setelah acara resmi berupa selamatan yang dihadiri oleh Bupati Demak, para pejabat dan sesepuh masyarakat setempat, tumpeng sembilan tadi diperebutkan atau diraya pengunjung. Dengan memperoleh bagian tumpeng para pengunjung mempunyai suatu kepercayaan. Hidupnya akan dekat dengan rezeki yang dianugerakan oleh Allah SWT. Bahkan potongan-potangan bambo yang dipakai untuk membuat ancakan atau welat menurut mereka mempunyai keampuhan. Dapat dipergunakan untuk penangkal serangan hawa disawah, serta panen perkebunan dan pertanian lainnya. Yang juga banyak mengundang perhatian baik warga Demak maupun para pengunjung dari Grebeg Besar mengarak penjamas dari pendopo kebupaten ke komplex makam Kadilangu dilakukan setelah selesai salat Idul Adha dan khotbah pada 10 Zulhijah. Menjelang pemberangkatan minyak jamat, diawali dengan penabuhan gamelan hidup hingga nampak regeng (meriah) dan para tamu yang semuanya berbusana kejawen dihibur dengan Tari Budoyo. Lurah Tantama didampingi dua orang Wiratama melangkah menaiki terap pendopo maju menghadap Bupati untuk melapor bahwa ia siap melaksanakan tugas pengawalan minyak jamas. Seorang puteri dayang disertai keluarganya melangkah menuju meja mengambil bokor berisi minyak jamas diserahkan kepada Lurah Tantama. Setelah menerima minyak jamas, Lurah Tantama laporan kepada Bupati bahwa ia dan prajurit patang puluhan mohon doa restu berangkat menuju Kadilangu. Keunikannya terletak pada pengawal pembawa minyak jamas yang terdiri dari 40 orang prajurit patang puluhan. Para prajurit mengenakan pakaian tradisional yang menggambarkan kegagahan prajurit kesultanan Demak Bintoro tempo dulu. Di kepalanya memakai kain kepala yang disebut desta, memakai pinan ikat pinggang dan membawa tombak sebagaimana layaknya seorang prajurit. Setelah tiba rombongan pembawa minyak jamas di Kadilangu, sesapuh dan keluarga ahliwaris Sunan Kalijogo mengadakan upacara penyambutan utusan dari Sultan Bintoro yaitu prajurit patang puluhan untuk menyerahkan minyak jamas. Utusan dari Sultan Bintoro langsung diterima sesepuh didampingi pembantunya dan keluarga. Minyak jamas diterima oleh pihak ahli waris kesepuhan Sunan Kalijogo, selanjutnya prajurit patang puluhan kembali ke kabupaten. Dengan selesainya serah terima Minyak Jamas, sesepuh dan keluarga ahliwaris berangkat menuju ke makam Kanjeng Sunan Kalijogo untuk melaksanakan upacara penjamasan pusaka peninggalan Sunan Kalijogo yang berupa jubah ontokusama, Keris Kiai Carubuk dan Kiai Sirikan.

Keramaian Grebeg Besar
            Setiap tahun, Kabupaten Demak menyelenggarakan kegiatan Grebeg Besar yang rutin dilakukan dalam rangka memelihara kebudayaan leluhur. Kegiatan tersebut mampu membangkitkan semangat dan kebanggaan warga Kabupaten Demak, karena pada saat itu, terpancar kejayaan Kerajaan Demak pada masa lalu. Menurut data sejarah, tradisi grebeg besar sebenarnya pada awalnya tidak hanya sekali setahun pada saat Idul Adha. Semula ada empat Grebeg Besar, yaitu Grebeg Maulid, Grebeg Dal, Grebeg Syawal, dan Grebeg Besar. Kegiatan yang masih berlangsung adalah Grebeg Besar yang sampai sekarang masih menjadi bagian tradisi bernilai jual.
            Pada zaman dahulu acara keramaian grebeg besar dibuka setelah ritual acara selesai. Namun sekarang ini acara keramaian grebeg besar dibuka dahulu kemudian baru rital-ritual acara dilaksanakan. Setelah rombongan meresmikan pembukaan keramaian Grebeg Besar di lapangan Tembiring. Dimulailah semua kegiatan keramaian di seantero Demak Kota.
Sebuah fenomena yang sangat menarik karena merupakan suatu gambaran yang nyata peristiwa menyatunya pejabat dengan rakyat dalam satu tempat sehingga tampak sebuah kerukunan dan kebersamaan langkah untuk menggapai cita- cita.
            Bila zaman dahulu diadakan ritual mampu menghilangkan marabahaya, maka untuk saat ini kita perlu mengubah pandangan tersebut menjadi sebuah konsep yang modern, yaitu mencari alternatif penyelesaian masalah dengan cara koordinasi dan konsolidasi pemerintah dengan masyarakat. Ini bisa menjadi lebih baik dan membawa kemajuan Kota Wali. Betapa besar arti Grebeg Besar bagi Kabupaten ini.   Ada kepercayaan pameo yang mengatakan, barang siapa menghadiri Grebeg Besar Demak tujuh kali berturut-turut, sama nilainya dengan telah melaksanakan Ibadah Haji.
            Grebeg Besar bagi pemerintah Kabupaten Demak juga memiliki arti penting, yakni sebagai salah satu sumber PAD (Pendapatan Asli Daerah), melalui biaya sewa kapling-kapling tanah yang disewakan selama perayaan Grebeg. Hal ini ditambah pemasukan dari hasil penjualan tiket masuk ke area keramaian Grebeg Besar.
Sementara itu, bagi warga Kota Wali, Grebeg Besar merupakan kesempatan yang luas untuk mendapatkan tambahan penghasilan dengan keterlibatannya dalam kegiatan, seperti mempromosikan aneka hasil pertanian, kerajinan serta industri kecil lainnya. Demikian besar arti Grebeg Besar bagi Kabupaten Demak sehingga kita perlu membuat inovasi-inovasi kreatif agar mampu meningkatkan kualitasnya. Perubahan- perubahan untuk perbaikan perlu dilakukan untuk meningkatkan nilai tambah bagi peningkatan pendapatan Kabupaten Demak. Perlu daya tarik agar mampu membangkitkan kebanggaan setiap warga.

Berikut gambar-gambar mengenai prosesi tradisi Grebeg Besar :

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhFcAqP1e1ky8J0zeUwyXyZzEt0ZW-30sBTyJlgITzdhmSZJkaSsIuUGiCwjehcC-QTw6od6JPQkz7aMGOHUNFLpzDGQ96dXT0tZTK150r1FhXBajkyWo2X-j6nSE3_OjlvDSx7oklAOUY/s400/Pendopo+kabupaten+demak.jpg     https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhJcCnAOed0oX5j29eK4tpnxAJd3r3KCswSK4s6QuLbYUks_oU8fdvNdHIYE-ne2ksJa3KBMWA5Fttkdli0AO5iVA_cS1KmmIBQ00cuJE_-g21bfvjIq3OiZtJe3alW3PR3JmLfJQ3yZdU/s400/prajurit+patang+puluhan.jpg         Lokasi start, pendopo Kabupaten Demak                                Prajurit patang puluhan menjadi pembuka karnaval


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhbQPMU4LvNsGw7WNexlXpz4xA5RGZ4z-tAo8yy6Q9dInxwuEQYS4ffXhKMRv4kAlnJpKxUgH04fkYn8R2qNuWQrn1Ki9QOn83lp5kIjoXRUWf0Uh3ooNgGPn7gAEbc99pGFPehnGeG8EM/s400/suasana+lokasi+penjamasan.jpg          https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgd2D7ktBGEYGHuGfg5kwiHS15qzspj52IFIvLGPXPrP6Ao7nndnxQiU2VckNaJwAqL6brWWQg265vg_DvYFYaLWKbSkBrcO_nKfm_ujXM2TlYVlUB9EoUtEoawedKSOSw_bVtt4Tfg3OY/s1600/sekaten2009.jpg
       Makam sunan Kalijaga sebagai  lokasi penjamasan                       Tembiring, lokasi acara keramaian grebeg besar




BAB III
PENUTUP

1. Kesimpulan

            Tradisi Grebeg Besar di Demak merupakan sebuah acara budaya tradisional besar yang menjadi salah satu ciri khas Demak. Tradisi Grebeg Besar Demak ini berlangsung setiap tahun pada tanggal 10 Dzulhijah saat Idul Adha. Dimeriahkan dengan karnaval kirap  budaya yang dimulai dari Pendopo Kabupaten Demak hingga ke Makam Sunan Kalijaga, kemudian diramaikan dengan banyaknya pedagang yang menjajakkan dagangan mereka dan aneka hiburan.
            Tradisi ini merupakan nilai kebudayaan yang berharga, dari tradisi ini juga dapat mengingatkan masyarakat untuk senantiasa mengingat perjuangan para Wali dan tentunya juga kegagahan masa kerajaan Demak terdahulu.
Dengan adanya Grebeg besar ini juga memberikan pendapatan terhadap pemerintah maupun pedagang yang berjualan disana. Grebeg besar ini juga memberikan hiburan bagi masyarakat setempat.
           

2. Saran

            Kebudayaan merupakan hal yang penting dan kita sebagai masyarakat haruslah menjaga tradisi-tradisi atau kebudayaan di daerah kita masing-masing dan jangan malu dan kita harus menanamkan pemikiran bangga terhadap tradisi dan kebudayaan kita dengan cara menjaga, memelihara, dan melestarikan kebudayaan kita.











DAFTAR PUSTAKA

Riefki,Muhammad.2012. Perbedaan Tradisi dan Budaya. http://answers.yahoo.com/question/index?qid=20120912051524AAXmGNI. Di akses pada tanggal 5 November 2013

Wikipedia.2013. Kabupaten Demak. http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Demak. di akses pada tanggal 5 November 2013.

Sanjana, dafidh.2011.Sejarah tradisi grebeg besar di Jawa. http://wisatademak.wordpress.com/2011/11/11/sejarah-tradisi-grebeg-besar-di-jawa/. Di akses pada tanggal 5 November 2013.

Anonym.2011.Grebeg besar kota Demak. http://raya-pakbecak.blogspot.com/2011/11/grebeg-besar-kota-demak.html. Di akses pada tanggal 5 November 2013.

Project, marcom.2009.Grebeg Besar di  Demak. http://www.marcom.com.au/Sguides/Zztvri/JB01.pdf. Di akses pada tanggal 5 November 2013.

Ragam.2009. Grebeg Besar - Eksotika Budaya Demak .http://demak-ku.blogspot.com/2009/08/grebeg-besar-eksotika-budaya-demak.html. Di akses pada tanggal 5 November 2013.

 



3 komentar:

Entri Populer

bayi ngedot

semut

Paste Kode jam yang telah diparse disini