Istilah nama Desa Cabean tidak saya
temukan dalam pencarian informasi yang saya cari. Tetapi jika ditelusuri secara
bahasa, kata “Cabean” berasal dari bahasa Jawa. Dalam Kamus Bahasa Jawa, kata “cabe” berarti nama suatu tanaman yang
buahnya untuk campuran jamu. Sedangkan tambahan akhiran “-an” dalam bahasa Jawa
menunjukan tempat. Dengan demikian, Cabean adalah suatu tempat menanam
pepohonan yang bernama “cabe” yang buahnya digunakan untuk campuran jamu.
Desa Cabean sendiri terdapat 3
bagian wilayah atau tempat, yaitu cabean (itu sendiri), sekaran, dan jombor.
Nama “sekaran” juga tidak dapat dilepaskan dengan keberadaan kasultanan Demak.
Sekaran berasal dari kata “sekar” yang berarti bunga. Jadi, sekaran adalah
tempat yang dijadikan kasultanan Demak untuk menanam bunga. Dahulu, Demak
merupakan kerajaan yang besar dan sering mengadakan hajatan dan upacara-upacara
kerajaan. Dalam rangka pelaksanaan hajatan serta upacara jelas kasultanan
memerlukan bunga untuk wangi-wangian.
Sekaran sendiri adalah tempat yang
sangat luas. Namun pada masa Wilem Hirman Daendelas membangun jalan nasional
yang dikenal jalan “Daendelas” dari Anyer (Banten) hingga Panarukan (Jawa
Timur). Jalan tersebut membelah sekaran menjadi dua bagian; bagian utara ikut
desa Cabean dan bagian selatan ikut desa Mranak kecamatan Wonosalam.
Sedangkan kata “jombor” berasal dari
kata “jember” yang artinya tempat yang berair. Sebab, saat itu jombor adalah
rawa yang banyak airnya. Air tersebut digunakan untuk menyiram bunga-bunga di
sekaran. Jombor sebagai tempat berair karena memang berada di persimpangan dua
sungai besar yaitu kali Ombo dan kali Lanang.
Keberadaan suatu desa tidak dapat
terlepas dari tokoh babad alas, yaitu orang-orang yang pertama kali datang
untuk membuka menjadi tempat tinggal. Munculnya Desa Cabean tidak dapat
dilepaskan dari ketiga orang yang menjadi cikal bakal. Orang yang pertama kali
datang dan membentuk komunitas. Mereka adalah pendatang yang memiliki tugas
khusus dari kesultann Demak. Mereka adalah Soreng Pati, Kyai Kamal, dan Nyai
Ringgit.
1. Soreng
Pati
Soreng pati adalah salah satu
penjaga kadipaten Jipang Panolan (perbatasan Kediri Malang) yang sangat sakti.
Arti nama Soreng sendiri berasal dari kata “suro” yang artinya berani, dan
“-eng” artinya dalam segala hal. Sedangkan kata “pati” artinya mati. Sehingga,
Soreng Pati adalah nama julukan orang yang berani menghadapi apapun, termasuk
berani mati.
Pada masa pemerintahan kasultanan
Demak yang ke-3, yaitu Sultan Trenggono (1521-1546) Soreng Pati ditugaskan oleh
pihak istana untuk menjaga wilayah pintu masuk kasultanan Demak bagian arah
Timur Laut. Seperti diketahui, bahwa kerajaan Demak selain melalui sungai
Tuntang juga datang melalui sungai yang sampai ke Cabean. Dapat dikatakan, desa
Cabean saat itu adalah pintu gerbang kerajaan terluar jalur laut dari arah
Jepara dan Timur Laut.
Pada jaman dahulu, transportasi
banyak memanfaatkan sungai-sungai. Kerajaan Demak sendiri dikelilingi oleh sungai.
Hal ini dimaksudkan apabila ada musuh yang menyerang kerajaan dapat dengan
mudah diketahui karena lewat sungai. Pada saat itu, kerajaan Demak dibawah
pemerintahan Sultan Trenggono, Demak sangat maju dan luas wilayahnya, banyak
tamu dari luar pulau atau luar negeri. Mereka ke Demak ada yang berdagang
maupun untuk hubungan pemerintahan kerajaan. Karena begitu strategisnya desa
Cebean, maka soreng pati diberi tugas oleh kasultanan secara khusus untuk
menjaganya, mengantisipasi apabila ada musuh yang datang dari Jepara dan dari
arah Timur Laut.
Soreng Pati adalah orang kepercayaan
Arya Penangsang (cucu Raden Patah). Setelah pergantian pemerintahan kerajaan
dari Sultan Trenggono ke Sultan Hadiwijoyo (Jaka Tingkir) muncul pemberontakan dari
Arya Penangsang yang merasa memiliki hak untuk menjadi raja di Demak. Sultan
Hadiwijoyo adalah menantu Sultan Trenggono. Sultan Hadiwijoyo merasa bukan
keturunan langsung dari Raden Patah dan memberikan keleluasaan kepada keturunan
Raden Patah untuk tinggal di kasultanan Demak. Sehingga, pemerintahan kerajaan
Demak dipindah ke Pajang.
Dengan suatu perencanaan yang matang
Arya Penangsang bermaksud membunuh Sultan Hadiwijoyo. Ia mengutus anak buahnya
yang sakti yaitu Soreng Pati, Soreng Singaparna, Soreng Satru dan Soreng Jaya
untuk membunuh Sultan Hadiwijoyo dengan pusaka keris Setan Kober. Meskipun
demikian, mereka berempat gagal membunuh Sultan Hadiwijoyo yang lebih sakti
ilmunya.
Setelah peristiwa tersebut tidak ada
lagi berita mengenai kehidupan Soreng Pati. Ketika ia meninggal dimakamkan di
Sekaran, dan komplek pemakamannya dinamakan “Makam Simbah Soreng Pati”.
2. Kyai
Kamal
Kyai Kamal bertempat di Cabean
karena utusan kasultanan Demak. Ia adalah seorang penghulu kerajaan Demak yang
ditugaskan untuk urusan keagamaan bagi masyarakat Cabean dan sekitarnya seperti
Tempuran dan Betokan. Kyai Kamal ditugaskan untuk mengurus orang yang
meninggal, perkawinan, serta mengajarkan agama Islam bagi masyarakat setempat.
Selain itu, Kyai Kamal memiliki kemampuan dalam hal pengobatan. Ketika ia
meninggal dimakamkan di Cabean, sehingga komplek pemakaman tersebut dinamakan
“Makam Kyai Kamal”.
3. Nyai
Ringgit
Nyai Ringgit adalah seorang istri
dari punggawa kerajaan demak yang ditugaskan untuk menjaga tempat tanaman bunga
(jawa=sekar) milik kerajaan Demak. Tempat tanaman bunga itu kemudian disebut
“sekaran”. Apabila ada utusan kasultanan Demak membutuhkan bunga untuk upacara
atau acara kerajaan, ia bertugas untuk mengambilnya.
Nyai Ringgit menyiram tanaman bunga
dengan mengambil air yang ada di rawa (Jombor) sebelah timur Sekaran. Ia sering
pergi ke rawa yang terdapat air. Selain untuk mengambil airnya guna menyiram
bunga, juga untuk mencari ikan. Sehingga, selesai menyiram dan merawat bunga,
ia lebih banyak menghabiskan waktu dipinggir rawa. Hingga meninggalnya ia
dimakamkan di Jombor, dan komplek pemakamannya dinamakan “Makam Nyi Ringgit”.
Selain
tokoh babad alas diatas saya juga mendapatkan informasi tentang tempat-tempat
bersejarah di desa Cabean, diantaranya yaitu :
1. Batu
Bobot
Masyarakat desa Cabean biasa
menyebut batu bobot dengan “watu kuning”, sebab batu tersebut berwarna
kekuning-kuningan. Batu bobot terletak di tengah-tengah persawahan desa Cabean.
Batu ini memiliki nilai sejarah karena berhubungan dengan Sultan Trenggono.
Pada masa kasultanan Demak, terdapat
kadipaten Panarukan (wilayah kerajaan Blambangan) yang tidak mau tunduk kepada
kasultanan Demak. Sebagian besar rakyat panarukan saat itu beragama
Hindu-Buddha. Sultan Trenggono bermaksud menjadikan kadipaten Panarukan menjadi bagian dari
kerajaan Demak agar dakwah Islam dapat diterapkan disana.
Untuk itu, Sultan Trenggono
bermaksud menyerang kadipaten Panarukan, sebelum ia berangkat menyerang ke
Panarukan, Sultan Trenggono melakukan semedi terlebih dahulu diatas sebuah batu
yang dikenal dengan “batu bobot” atau masyarakat menyebut “watu kuning”
Selama bersemedi Sultan Trenggono
mendapat petunjuk dari Allah SWT agar membatalkan niatnya. Akan tetapi, karena
kebenciannya terhadap Portugis yang membantu Panarukan hal itu tetap dilakukan.
akibatnya ia kalah saat melawan Adipati Pekik.
2. Umbul
Umbul berasal dari bahasa Jawa yang
artinya air yang memancar. Umbul terletak di tengah-tengah Sekaran. Airnya
tidak pernah berhenti memancar keluar. Tidak ada informasi yang pasti tentang
asal muasa siapa yang membuat. Tetapi keberadaannya bukanlah kebetulan.
Artinya, kemunculannya memang sengaja dibuat.
Sejalan dengan itu, Demak apabila
musim kemarau panjang tidak ada air . Hal demikian dikhawatirkan tanaman bunga
yang ada di Sekaran akan mati semua. Sehinga keberadaan Umbul digunakan airnya
untuk menyiram bunga-bunga ketika kemarau. Ketika Belanda menjajah Indonesia
dan di Demak Belanda membuat gudang (sekarang SMU Negeri 2 Demak) yang
berdekatan dnegan Cabean untuk menyimpan hasil pertanian. Orang-orang yang
menyerang Belanda sering berlari dan bersembunyi di Cabean. Sehingga, Belanda
mengejar dan masuk ke Cabean. Melihat adanya sumber air yang keluar, Belanda
kemudian membangun tempat tersebut (umbul), sehingga air tersebut bisa dimanfaatkan untuk
keperluan masyarakat.
bagus sekali...
BalasHapussaya orang cabean loh..
walah, ternyata temene si fitri... hadeeehh...
BalasHapusSudah 2 kali aku berziarah ke makam simbah sorengpati
BalasHapusTepate dimana lo
BalasHapusWahh terima kasih sudah membuat artikel tentang sejarah desa cabean , jadi tau sekarang asal usul nya
BalasHapusWahh terima kasih sudah membuat artikel tentang sejarah desa cabean , jadi tau sekarang asal usul nya
BalasHapusApa betul kyai kamal yg dimakamkan di desa cabean berasal dari cirebon?
BalasHapusKerren....
BalasHapusinilah asal usul desa cabean demak🙏
BalasHapus