Rabu, 15 Januari 2014

Sejarah di Desa Cabean Demak




            Istilah nama Desa Cabean tidak saya temukan dalam pencarian informasi yang saya cari. Tetapi jika ditelusuri secara bahasa, kata “Cabean” berasal dari bahasa Jawa. Dalam Kamus Bahasa Jawa, kata “cabe” berarti nama suatu tanaman yang buahnya untuk campuran jamu. Sedangkan tambahan akhiran “-an” dalam bahasa Jawa menunjukan tempat. Dengan demikian, Cabean adalah suatu tempat menanam pepohonan yang bernama “cabe” yang buahnya digunakan untuk campuran jamu.
            Desa Cabean sendiri terdapat 3 bagian wilayah atau tempat, yaitu cabean (itu sendiri), sekaran, dan jombor. Nama “sekaran” juga tidak dapat dilepaskan dengan keberadaan kasultanan Demak. Sekaran berasal dari kata “sekar” yang berarti bunga. Jadi, sekaran adalah tempat yang dijadikan kasultanan Demak untuk menanam bunga. Dahulu, Demak merupakan kerajaan yang besar dan sering mengadakan hajatan dan upacara-upacara kerajaan. Dalam rangka pelaksanaan hajatan serta upacara jelas kasultanan memerlukan bunga untuk wangi-wangian.
            Sekaran sendiri adalah tempat yang sangat luas. Namun pada masa Wilem Hirman Daendelas membangun jalan nasional yang dikenal jalan “Daendelas” dari Anyer (Banten) hingga Panarukan (Jawa Timur). Jalan tersebut membelah sekaran menjadi dua bagian; bagian utara ikut desa Cabean dan bagian selatan ikut desa Mranak kecamatan Wonosalam.
            Sedangkan kata “jombor” berasal dari kata “jember” yang artinya tempat yang berair. Sebab, saat itu jombor adalah rawa yang banyak airnya. Air tersebut digunakan untuk menyiram bunga-bunga di sekaran. Jombor sebagai tempat berair karena memang berada di persimpangan dua sungai besar yaitu kali Ombo dan kali Lanang.
            Keberadaan suatu desa tidak dapat terlepas dari tokoh babad alas, yaitu orang-orang yang pertama kali datang untuk membuka menjadi tempat tinggal. Munculnya Desa Cabean tidak dapat dilepaskan dari ketiga orang yang menjadi cikal bakal. Orang yang pertama kali datang dan membentuk komunitas. Mereka adalah pendatang yang memiliki tugas khusus dari kesultann Demak. Mereka adalah Soreng Pati, Kyai Kamal, dan Nyai Ringgit.
1.      Soreng Pati
            Soreng pati adalah salah satu penjaga kadipaten Jipang Panolan (perbatasan Kediri Malang) yang sangat sakti. Arti nama Soreng sendiri berasal dari kata “suro” yang artinya berani, dan “-eng” artinya dalam segala hal. Sedangkan kata “pati” artinya mati. Sehingga, Soreng Pati adalah nama julukan orang yang berani menghadapi apapun, termasuk berani mati.
            Pada masa pemerintahan kasultanan Demak yang ke-3, yaitu Sultan Trenggono (1521-1546) Soreng Pati ditugaskan oleh pihak istana untuk menjaga wilayah pintu masuk kasultanan Demak bagian arah Timur Laut. Seperti diketahui, bahwa kerajaan Demak selain melalui sungai Tuntang juga datang melalui sungai yang sampai ke Cabean. Dapat dikatakan, desa Cabean saat itu adalah pintu gerbang kerajaan terluar jalur laut dari arah Jepara dan Timur Laut.
            Pada jaman dahulu, transportasi banyak memanfaatkan sungai-sungai. Kerajaan Demak sendiri dikelilingi oleh sungai. Hal ini dimaksudkan apabila ada musuh yang menyerang kerajaan dapat dengan mudah diketahui karena lewat sungai. Pada saat itu, kerajaan Demak dibawah pemerintahan Sultan Trenggono, Demak sangat maju dan luas wilayahnya, banyak tamu dari luar pulau atau luar negeri. Mereka ke Demak ada yang berdagang maupun untuk hubungan pemerintahan kerajaan. Karena begitu strategisnya desa Cebean, maka soreng pati diberi tugas oleh kasultanan secara khusus untuk menjaganya, mengantisipasi apabila ada musuh yang datang dari Jepara dan dari arah Timur Laut.
            Soreng Pati adalah orang kepercayaan Arya Penangsang (cucu Raden Patah). Setelah pergantian pemerintahan kerajaan dari Sultan Trenggono ke Sultan Hadiwijoyo (Jaka Tingkir) muncul pemberontakan dari Arya Penangsang yang merasa memiliki hak untuk menjadi raja di Demak. Sultan Hadiwijoyo adalah menantu Sultan Trenggono. Sultan Hadiwijoyo merasa bukan keturunan langsung dari Raden Patah dan memberikan keleluasaan kepada keturunan Raden Patah untuk tinggal di kasultanan Demak. Sehingga, pemerintahan kerajaan Demak dipindah ke Pajang.
            Dengan suatu perencanaan yang matang Arya Penangsang bermaksud membunuh Sultan Hadiwijoyo. Ia mengutus anak buahnya yang sakti yaitu Soreng Pati, Soreng Singaparna, Soreng Satru dan Soreng Jaya untuk membunuh Sultan Hadiwijoyo dengan pusaka keris Setan Kober. Meskipun demikian, mereka berempat gagal membunuh Sultan Hadiwijoyo yang lebih sakti ilmunya.
            Setelah peristiwa tersebut tidak ada lagi berita mengenai kehidupan Soreng Pati. Ketika ia meninggal dimakamkan di Sekaran, dan komplek pemakamannya dinamakan “Makam Simbah Soreng Pati”.
2.      Kyai Kamal
            Kyai Kamal bertempat di Cabean karena utusan kasultanan Demak. Ia adalah seorang penghulu kerajaan Demak yang ditugaskan untuk urusan keagamaan bagi masyarakat Cabean dan sekitarnya seperti Tempuran dan Betokan. Kyai Kamal ditugaskan untuk mengurus orang yang meninggal, perkawinan, serta mengajarkan agama Islam bagi masyarakat setempat. Selain itu, Kyai Kamal memiliki kemampuan dalam hal pengobatan. Ketika ia meninggal dimakamkan di Cabean, sehingga komplek pemakaman tersebut dinamakan “Makam Kyai Kamal”.
3.      Nyai Ringgit
            Nyai Ringgit adalah seorang istri dari punggawa kerajaan demak yang ditugaskan untuk menjaga tempat tanaman bunga (jawa=sekar) milik kerajaan Demak. Tempat tanaman bunga itu kemudian disebut “sekaran”. Apabila ada utusan kasultanan Demak membutuhkan bunga untuk upacara atau acara kerajaan, ia bertugas untuk mengambilnya.
            Nyai Ringgit menyiram tanaman bunga dengan mengambil air yang ada di rawa (Jombor) sebelah timur Sekaran. Ia sering pergi ke rawa yang terdapat air. Selain untuk mengambil airnya guna menyiram bunga, juga untuk mencari ikan. Sehingga, selesai menyiram dan merawat bunga, ia lebih banyak menghabiskan waktu dipinggir rawa. Hingga meninggalnya ia dimakamkan di Jombor, dan komplek pemakamannya dinamakan “Makam Nyi Ringgit”.
Selain tokoh babad alas diatas saya juga mendapatkan informasi tentang tempat-tempat bersejarah di desa Cabean, diantaranya yaitu :
1.      Batu Bobot
            Masyarakat desa Cabean biasa menyebut batu bobot dengan “watu kuning”, sebab batu tersebut berwarna kekuning-kuningan. Batu bobot terletak di tengah-tengah persawahan desa Cabean. Batu ini memiliki nilai sejarah karena berhubungan dengan Sultan Trenggono.
            Pada masa kasultanan Demak, terdapat kadipaten Panarukan (wilayah kerajaan Blambangan) yang tidak mau tunduk kepada kasultanan Demak. Sebagian besar rakyat panarukan saat itu beragama Hindu-Buddha. Sultan Trenggono bermaksud menjadikan  kadipaten Panarukan menjadi bagian dari kerajaan Demak agar dakwah Islam dapat diterapkan disana.
            Untuk itu, Sultan Trenggono bermaksud menyerang kadipaten Panarukan, sebelum ia berangkat menyerang ke Panarukan, Sultan Trenggono melakukan semedi terlebih dahulu diatas sebuah batu yang dikenal dengan “batu bobot” atau masyarakat menyebut “watu kuning”
            Selama bersemedi Sultan Trenggono mendapat petunjuk dari Allah SWT agar membatalkan niatnya. Akan tetapi, karena kebenciannya terhadap Portugis yang membantu Panarukan hal itu tetap dilakukan. akibatnya ia kalah saat melawan Adipati Pekik.
2.      Umbul
            Umbul berasal dari bahasa Jawa yang artinya air yang memancar. Umbul terletak di tengah-tengah Sekaran. Airnya tidak pernah berhenti memancar keluar. Tidak ada informasi yang pasti tentang asal muasa siapa yang membuat. Tetapi keberadaannya bukanlah kebetulan. Artinya, kemunculannya memang sengaja dibuat.
            Sejalan dengan itu, Demak apabila musim kemarau panjang tidak ada air . Hal demikian dikhawatirkan tanaman bunga yang ada di Sekaran akan mati semua. Sehinga keberadaan Umbul digunakan airnya untuk menyiram bunga-bunga ketika kemarau. Ketika Belanda menjajah Indonesia dan di Demak Belanda membuat gudang (sekarang SMU Negeri 2 Demak) yang berdekatan dnegan Cabean untuk menyimpan hasil pertanian. Orang-orang yang menyerang Belanda sering berlari dan bersembunyi di Cabean. Sehingga, Belanda mengejar dan masuk ke Cabean. Melihat adanya sumber air yang keluar, Belanda kemudian membangun tempat tersebut (umbul),  sehingga air tersebut bisa dimanfaatkan untuk keperluan masyarakat.

9 komentar:

  1. bagus sekali...
    saya orang cabean loh..

    BalasHapus
  2. walah, ternyata temene si fitri... hadeeehh...

    BalasHapus
  3. Sudah 2 kali aku berziarah ke makam simbah sorengpati

    BalasHapus
  4. Wahh terima kasih sudah membuat artikel tentang sejarah desa cabean , jadi tau sekarang asal usul nya

    BalasHapus
  5. Wahh terima kasih sudah membuat artikel tentang sejarah desa cabean , jadi tau sekarang asal usul nya

    BalasHapus
  6. Apa betul kyai kamal yg dimakamkan di desa cabean berasal dari cirebon?

    BalasHapus
  7. inilah asal usul desa cabean demak🙏

    BalasHapus

Entri Populer

bayi ngedot

semut

Paste Kode jam yang telah diparse disini